Sabtu, 21 Desember 2013

Sisi Lain Kedatangan SBY ke Madura




Oleh: Badri Stiawan
(Mahasiswa Ilmu Komunikasi sekaligus
Kader HMI Cabang Bangkalan Komisariat ISIB)

Sebagai orang nomor satu di Negara Republik Indonesia, SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) merupakan sosok pemimpin yang terpilih sebagai Presiden selama satu dekade. Lima tahun menjabat sebagai kepala Negara, SBY mendapatkan kepercayaan kembali dari masyarakat Indonesia untuk melanjutkan kiprahnya dan menjadi pemimpin kembali.
SBY harus menghentikan langkahnya di tataran eksekutif pada tahun 2014 karena sudah mendapatkan kesempatan untuk menjadi Presiden RI selama dua periode. Secara otomatis SBY sudah tidak bisa mencalonkan diri kembali di pemilu selanjutnya. Namun meski demikian, sebagai Presiden Indonesia yang ke-6 SBY telah menunjukkan kinerja maksimalnya untuk menjadikan Indonesia lebih baik dari masa-masa sebelumnya. Diakhir-akhir masa jabatannya SBY mulai menggelar beberapa kegiatan kenegaraan untuk melengkapi program kerjanya selaku pemimpin negara.
Madura adalah salah satu pulau di daerah Jawa Timur yang terdiri dari empat kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Madura yang terkenal dengan sebutan Pulau Garam ini mulai berbenah diri mulai dari infrastruktur, fasilitas dan lain-lain ketika orang nomor satu di Indonesia ini merencanakan untuk mendatangi wilayah tersebut. Pembenahan paling menonjol yang dilakukan oleh pemerintah se-Madura adalah akses jalan utama Bangkalan-Sumenep terlihat mulai diperbaiki oleh para pekerja untuk menyambut kedatangan SBY ke Madura. Pemerintah di seluruh wilayah Madura mau berbenah hanya karena SBY datang untuk menjenguk. Apakah akses jalan akan cepat diperbaiki hanya apabila mau dilintasi oleh seorang Presiden. Lantas jika Presiden tidak pernah datang ke Madura apakah perbaikan-perbaikan akan cepat terealisasi?
Dalam persiapannya aparat keamanan baik dari kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) mulai sibuk untuk mengamankan  jalan dan lokasi yang akan dijadikan tujuan oleh SBY demi kalancaran acara kunjungannya. Kedatangan SBY ini banyak memunculkan pro-kontra, opini-opini dan pertanyaan dari masyarakat khususnya yang rakyat Madura. Ada yang bangga dengan kunjungan SBY dan ada pula yang merasa keberatan.
Kampus Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang terletak di kabupaten Bangkalan juga masuk dalam daftar kunjungan SBY di Madura. Semua kegiatan di UTM diberhentikan mulai dari proyek pembangunan hingga proses perkuliahan pun diliburkan. Larangan untuk adanya kegiatan dalam bentuk apapun di kampus juga telah dikeluarkan dengan alasan pensterilisasian lokasi. Penjagaan yang ketat baik dari paspamres, intel, Polri dan TNI telah disiagakan demi keamanan Presiden. Kedatangan SBY ke UTM ialah dalam rangka peresmian Gedung Rektorat UTM. Yang jelas kunjungan Presiden ini mengganggu aktifitas mahasiswa, bahkan sangat tidak rasional sekali apabila mahasiswa harus merelakan dan harus menunda segala kegiatannya hanya karena acara kunjungan tersebut. Sepenting apakah acara peresmian Gedung tersebut sehingga harus menghentikan kegiatan kemahasiswaan? Apakah tidak akan lebih baik jika kegiatan mahasiswa tetap berjalan supaya SBY tahu seperti apa saja aktifitas mahasiswa? Dan bukankah seharusnya demikian?
Penjagaan yang sangat ketat mengindikasikan bahwa SBY takut dan merasa khawatir atas keamanan dirinya. Jika memang benar demikian, berarti SBY banyak mempunyai musuh. Bisa juga dikatakan bahwa bapak Presiden telah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan tidak dapat diampuni sehingga banyak yang memusuhinya. Jika perkiraan ini salah, maka seharusnya segala kegiatan mahasiswa khususnya mahasiswa UTM harus tetap berjalan. Sungguh lucu sekali ketika hanya untuk acara cerimonial peresmian benda mati harus mengorbankan kepentingan dan hak-hak benda hidup.

Minggu, 01 September 2013

Sejarah dan Profil Komunitas Film CINDICAT Picture

CINDICAT Pictures adalah komunitas film yang dibentuk mulai awal bulan Mei 2013. Dan resmi disepakati oleh semua teman-teman menggunakan nama CINDICAT Pictures pada tanggal 08 Mei 2013, dari buah pikir Masruri (jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2012).
Kata CINDICAT sendiri adalah kependekan dari Cinema Indie Communication. Karena, memang kami adalah mahasiswa dari jurusan Ilmu komunikasi. Namun dalam pengetahuan film, jurusan kami tidak banyak memberikan asupan ilmu, karena kami sama sekali belum mendapatkan materi produksi media televisi ataupun sinematografi dalam perkuliahan, karena kami masih menempuh semester IV (Empat) dan ada juga yang masih semester II (Dua). Modal kecintaan dan kesukaan terhadap dunia broadcasting terutama di dunia perfilman mahasiswa angkatan 2011 Ilmu Komunikasi politik semester IV (Rahman Ramdani) menjadi tekat yang kokoh untuk mencari orang yang sejalan dengan kesukaannya dibidang film. Hingga kemudian Ribut Sugiono, Badri Stiawan, Angga Satrio.P, Analisa, Gilang S. A dan Moh. Ishbir mendukung dan memberikan sumbangsih pemikirannya karena kesukaan yang sama dalam perfilman dan juga keinginan untuk menjalin solidaritas antara mahasiswa, khususnya Ilmu Komunikasi yang tertarik belajar bersama dalam hal perfilman. Dengan rencana yang tidak sebentar dan konsep film perdana yang harus buming dilingkungan kampus akhirnya sumbangsih pemikiran Mas Shohib (Mahasiswa senior Ilmu komunikasi) untuk menggarap Skripnya yang dulu tidak sempat digarap bersama teman-teman SENIAS ’08nya dulu. Tidak dapat dipungkiri bahwa peranan SENIAS ’08 terutama Mas Shohib adalah sebagai motivator CINDICAT Pictures. Sehingga dari motivasi itu kami sedikit demi sedikit bisa mengumpulkan lagi teman-teman untuk menjadi tim produksi film dengan skrip yang diberikan teman-teman SENIAS ’08 dengan judul “BAKSO SARJANA”. Semangat teman-teman semakin berkobar ketika keinginannya untuk menjalin solidaritas dengan angkatan yang lain di jurusan terturuti dengan bergabungnya Masruri, Sulaiman, Fery, Aldy, Aka dan Yanu (Mahasiswa Ilmu komunikasi angkatan 2012).
Di tengah kebersamaan yang kami jalani hampir setiap malam di warung kopi selalu diselingi dengan shearing tentang film dan juga rencana film perdana. Keinginan yang teguh sudah jadi milik bersama, rencana film perdana harus sukses dan maksimal. Semua kebutuhan mulai dari alat-alat secara tidak sadar berlahan kami miliki dengan meronggoh receh demi receh hingga akhirnya harus berhenti ngopi dan rokok demi film. Hanya alat-alat yang nominalnya besar saja yang kami usahakan pinjam ke jurusan namun karena berbenturan dengan kakak tingkat yang memakainya untuk tugas mata kuliah jadi lebih di utamakan. Namun, rencana peminjaman barang itu tidak berujung kecewa justru semangat hangat untuk kami karena Pak Bambang (Dosen Fotografi) mendukung langkah kita. Selang beberapa hari nama CINDICAT semakin terdengar di jurusan. Apresiasi dari beberapa dosen termasuk kepala jurusan Sri Wahyuningsih dan juga Dessy Susilowati yang mendukung dan juga membantu pendanaan film perdana kami. Nama kami kian terdengar, padahal CINDICAT belum ada karyanya melainkan baru berproses. Konsep dan rencana turun lapangan untuk film perdana ternyata berjalan dengan lancar walaupun banyak sebenarnya kendala terutama dari segi alat-alat dan juga kekurangan orang untuk membantu pengaman lokasi shooting. Namun yang paling berat kendalanya adalah perbedaan sikap dan karakter masing-masing individu sehingga tak jarang berdebat kecil dilokasi shooting.
Dan alhamdulillah setelah produksi film perdana (Bakso Sarjana) kami sepakat untuk memproduksi film kedua yang berjudul "Galeri Pulau Sumenep" (GPS) Eps. Pulau Gili Labak. dalam pembuatan film ini teman-teman sadar bahwasanya dari para crew dan dari segi peralatan memang sangat kurang akan persiapan. Namun hal itu dapat di dijadikan pelajaran untuk pembuatan film ke depannya. Perjalanan ke pulau Gili Labak ini teman-teman tempuh dari bangkalan menuju pelabuhan Kalianget Kab. Sumenep dan kemudian menyebrang ke Pulau Poteran. Setelah itu untuk sampai ke Pulau Gili Labak kami harus menyebrangi lautan lagi dari desa Kombang. Banyak sekali rintangan yang dihadapi oleh para crew, terutama bagi teman-teman yang belum pernah naik perahu etek-etek. Kami dipaksa untuk melalui terjangan ombak besar, hujan deras dan angin kencang serasa perahu yang kami tumpangi mau terbalik, semua itu dilakukan hanya untuk bisa sampai di pulau tersebut. Akan tetapi semua rintangan dan tantangan itu akhirnya dapat terbayarkan setelah crew CINDICAT dapat melihat dengan jelas pemandangan indah pulau Gili Labak dengan pantai dan air lautnya yang jernih sehingga karang dan ikan-ikan laut dapat kami lihat dari atas perahu. Sungguh pulau yang indah dan bisa dikatakan bahwa ini adalah surganya Madura.
Ini adalah sejarah singkat dan profil dari komunitas film CINDICAT Picture.

Diklat Jurusan Ilmu Komunikasi 2013 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Trunojoyo Madura (UTM)