Kamis, 25 Desember 2014
Dokumentasi Magang di Radar Madura Radio
WAYANG
By: OM Badri
Hai..!! wayang..
kau hancurkan, kau libas ribuan tentara bayangan yang
menghadangmu untuk merebut tahta angan ini.
rekaman yang lalu kau jadikan senjata dan menyerangku bertubi-tubi.
tangan itu,,, tatapan itu,,, membuatku buta.
kau mungkin menganggap itu hal yg biasa..
tapi bagiku adalah hal indah yang kau berikan.
kau menyayat diriku dengan senyummu yang sadis.
hingga membuatku menjadi orang yang apatis..
mengapa kau lari saat kumenghampirimu.
apa maksud dikau datang dalam diamku?
seolah kau sedang mempermainkanku.
tapi aku senang.. diriku kan slalu mengejar dan akan
berhenti kala lelah dan pasrah menunggu berharap kau hampiri.
aku tahu kau hanyalah wayang..
namun kau mengganggu kasur bantalku.
Jika tangan menggenggam terlalu lama akan menyebabkan cinta.
Maka,, ya.
Aku cinta padamu..!!
Rabu, 16 April 2014
TERNYATA
“Ilmu Bisa
Mengangkat Derajat Seseorang”
Oleh:
Badri Stiawan
Belajar
adalah suatu pilihan. Sedangkan pintar dan bodoh adalah konsekuensi. Seseorang
akan tahu jika mencari tahu. Namun, dari kekuatan yang besar akan muncul
tanggung jawab yang besar pula. Sama halnya dengan orang yang mencari ilmu.
يرفع الله
الذين امنو منكم والذين اوتو العلم درجات.
Yang
intinya bahwa, “Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman
dan orang-orang yang berilmu”.
Bagi
orang-orang yang memiliki keinginan dan kesadaran yang tinggi, ketika ilmu yang
diperoleh bertambah banyak maka orang tersebut pasti akan merasa semakin bodoh
(haus ilmu). Berbeda dengan orang-orang yang angkuh dan sombong. Hanya karena
memahami sebagian ilmu (sedikit) atau tahu secara sepintas saja sudah terlalu
memamerkan yang ia miliki. Padahal sombong bukanlah sifat yang pantas dimiliki
oleh manusia. Karena manusia hanyalah sebatas makhluk ciptaan Tuhan. Jadi
seharusnya yang pantas mempunyai sifat sombong itu hanyalah Tuhan Yang Maha Esa.
Kembali
lagi pada pembahasan tentang ilmu. Apabila dikaji kembali, kata-kata “orang
yang punya ilmu ialah lebih tinggi derajatnya dibandingkan orang yang tidak
berilmu.” Sangat sesuai jika dilihat pada realitas yang terjadi saat ini.
Contoh mudahnya ialah dalam hal mencuri. Koruptor, perampok dan maling
sama-sama melakukan tindak kriminal yaitu “pencurian”. Walaupun demikian ada
perbedaan diantaranya. Di Indonesia khususnya yang terjadi di masa kini bahwa
hukuman atau sanksi bagi para koruptor yang mencuri berupa uang lebih banyak
dan juga tentunya lebih merugikan bagi banyak orang diberikan sanksi yang dapat
dikatakan lebih ringan dibandingkan dengan para pencuri seperti halnya maling
ayam atau pencuri lainnya. Terbukti, pada realitasnya saat ini untuk fasilitas
penjara saja seorang koruptor dapat dengan nyaman tinggal di dalam jeruji besi
dengan segala kemewahannya dan dijatuhi hukuman yang tergolong cukup singkat.
Sedangkan untuk orang-orang yang mencuri ayam, sapi, dan sebagainya (pencuri
kelas teri) malah mendapatkan fasilitas yang buruk dan dijatuhi hukuman yang
begitu lama. Bahkan yang paling miris ialah kasus yang menimpa anak-anak di
bawah umur yang dituduh mencuri sandal seorang aparat harus berhadapan dengan
palu hakim pengadilan. Sungguh sangat tidak rasional sama sekali. Dari hal ini
muncul pertanyaan, “mungkinkah ada permainan diantara hakim yang menangani
kasus korupsi dengan para koruptor yang tertangkap basah mencuri uang rakyat?
Dari
contoh di atas dapat dijadikan sebagai salah satu bukti bahwa untuk hal mencuri
saja antara seorang koruptor yang tentunya mempunyai lebel pendidikan tinggi
(berilmu) dengan seorang pencuri biasa yang cenderung memiliki pendidikan lebih
rendah mendapatkan penilaian yang berbeda dimata hukum Indonesia.
Kamis, 13 Maret 2014
Andakah Mahasiswa?
Badri Stiawan
Ilmu Komunikasi UTM
Kader HMI Cabang Bangkalan
Komisariat ISIB UTM
Secara
sederhana (epistimologi) mahasiswa dapat diartikan sebagai orang yang sedang
belajar atau menuntut ilmu di perguruan tinggi.
Pada
dasarnya yang membedakan antara mahasiswa dengan siswa ialah pada tingkat
kemandiriannya. Mengapa demikian? Karena sangat dapat dilihat pada saat menjadi
pelajar yang duduk dibangku sekolah seorang anak didik masih lebih banyak
ketergantungan. Contohnya rasa ketergantungan kepada orang tua. Jika sandainya
seorang mahasiswa masih lebih banyak ketergantungan, maka tidak ubahnya dengan
siswa biasa.
Perbedaan
antara mahasiswa dengan siswa secara sederhana bisa dilihat dari berbagai sisi.
Misalkan dari segi lifestyle, seperti halnya cara berpakaian dan semacamnya.
Atau bisa dari segi status, seperti antara dosen-guru, mahasiswa-siswa,
kampus-sekolah dan sebagainya. Bisa juga dilihat dari sistem pembelajarannya
dan masih banyak lagi.
YAKUSA...!!
Yang Sebenarnya tentang Agama dan Islam
By: Badri Stiawan
Agama
berasal dari kata Yunani yaitu dari kata “A” dan “Gama” yang artinya A adalah
“tidak” sedangkan Gama berarti “kocar-kacir”. Atau bisa dikatakan bahwa Agama
itu adalah aturan agar tidak kocar-kacir. Istilah Agama sendiri diungkapkan
oleh Snock Hendrix yang ingin mempersatukan semua aturan di Indonesia menjadi
“Agama”. Atas dasar Snock Hendrix melihat latar belakang Keyakinan masyarakat
dalam kontek spiritual di Indonesia ini yang beragam. Mulai dari Islam,
Kristen, Hindu, Budha, Katolik dan Konghucu.
Islam
sendiri sebenarnya bukanlah Agama. Melainkan Islam itu adalah ajaran. Nah, hal
inilah yang kemudian disalah artikan oleh kebanyakan orang bahwasanya Islam itu
adalah Agama. Sedangkan orang juga beranggapan bahwa Agama itu adalah
keyakinan, padahal bukan itu yang dimaksud oleh Snock Hendrix. Akan tetapi dia
menginginkan dari semua ajaran ini tidak terpecah belah yang kemudian
diistilahkan menjadi “Agama”.
Langganan:
Postingan (Atom)























































